DenpasarTerkini.com
Image default
Kesehatan

Alzheimer Bisa Terdeteksi Sebelum Lupa Ingatan, Tes Darah Jadi Harapan Baru

Penyakit Alzheimer selama ini kerap baru diketahui setelah seseorang mulai mengalami gangguan daya ingat atau perubahan kemampuan berpikir. Namun, perkembangan penelitian terbaru membuka peluang untuk mengenali tanda-tanda penyakit tersebut jauh lebih awal, bahkan ketika seseorang belum menunjukkan gejala.

Salah satu terobosan yang tengah mendapat perhatian adalah penggunaan tes darah untuk mendeteksi biomarker Alzheimer. Peneliti menemukan bahwa perubahan kadar protein tertentu di dalam darah dapat memberikan petunjuk mengenai proses biologis yang terjadi di otak sebelum gangguan kognitif terlihat.

Salah satu biomarker yang paling banyak diteliti adalah p-tau217, yaitu bentuk protein tau yang mengalami perubahan dan berkaitan dengan proses penyakit Alzheimer. Penelitian yang didukung National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa pemeriksaan p-tau217 dalam darah tidak hanya dapat membantu mengidentifikasi perubahan yang berkaitan dengan Alzheimer, tetapi juga berpotensi memperkirakan kapan gejala penyakit mulai muncul.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengembangkan model yang disebut sebagai “jam Alzheimer”. Model ini dibuat berdasarkan pemeriksaan kadar p-tau217 secara berulang pada ratusan orang lanjut usia. Hasilnya menunjukkan bahwa usia ketika kadar p-tau217 mulai meningkat memiliki hubungan dengan usia ketika seseorang mulai mengalami gejala Alzheimer.

Para peneliti memperkirakan usia munculnya gejala dengan tingkat kesalahan median sekitar tiga hingga empat tahun. Artinya, metode tersebut belum dapat menentukan tanggal atau waktu pasti seseorang akan mengalami Alzheimer, tetapi memberikan gambaran mengenai rentang waktu yang mungkin terjadi.

Temuan tersebut menjadi penting karena perubahan terkait Alzheimer sebenarnya dapat berlangsung bertahun-tahun sebelum gangguan daya ingat atau kemampuan berpikir mulai terasa. Penumpukan protein amyloid dan perubahan protein tau di otak dapat terjadi pada fase yang disebut praklinis, ketika seseorang masih tampak sehat dan tidak mengalami gangguan kognitif yang jelas.

Penelitian terbaru dari Columbia University yang diterbitkan pada September 2026 bahkan mencoba meningkatkan kemampuan prediksi tersebut dengan menggabungkan tes darah p-tau217 dan pemeriksaan genetik APOE.

Studi yang melibatkan sekitar 8.500 peserta dari berbagai latar belakang menemukan bahwa kombinasi kedua informasi tersebut dapat membantu memperkirakan kapan gejala Alzheimer kemungkinan mulai muncul pada orang yang saat ini belum mengalami gangguan kognitif.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan variasi genetik yang dimiliki seseorang. Setelah kadar p-tau217 meningkat, peserta yang membawa satu atau lebih salinan varian APOE4, yang diketahui berkaitan dengan risiko Alzheimer yang lebih tinggi, diperkirakan dapat mengalami gejala dalam sekitar tiga sampai empat tahun. Sementara itu, peserta dengan varian APOE lainnya diperkirakan mengalami gejala dalam rentang sekitar lima sampai enam tahun.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti tes darah saat ini dapat memastikan seseorang pasti akan terkena Alzheimer. Pemeriksaan biomarker lebih tepat dipahami sebagai alat untuk memberikan informasi mengenai proses penyakit dan kemungkinan perkembangannya.

Hal tersebut penting karena keberadaan biomarker Alzheimer tidak selalu berarti seseorang akan segera mengalami gangguan kognitif. Seseorang dapat memiliki perubahan biologis yang berkaitan dengan Alzheimer selama bertahun-tahun sebelum gejala muncul.

Para peneliti juga terus mencari biomarker lain yang dapat memberikan gambaran lebih akurat mengenai perkembangan penyakit. Salah satunya adalah circular RNA atau circRNA, yakni molekul RNA berbentuk lingkaran yang relatif stabil dan dapat ditemukan dalam darah.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Medicine pada 2026 menganalisis data lebih dari 1.200 individu dan menemukan sejumlah circRNA yang berkaitan dengan status Alzheimer. Model yang menggunakan 34 circRNA menunjukkan kemampuan untuk mengklasifikasikan kondisi Alzheimer berbasis biomarker dan memberikan hasil yang menjanjikan ketika dikombinasikan dengan p-tau217.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa tes darah berpotensi menjadi salah satu bagian penting dalam deteksi Alzheimer pada masa mendatang. Dibandingkan metode pemeriksaan yang lebih invasif atau mahal, tes darah menawarkan proses pengambilan sampel yang relatif sederhana sehingga berpotensi digunakan secara lebih luas apabila akurasi dan penggunaannya telah memenuhi standar klinis.

Namun, masyarakat perlu berhati-hati dalam memahami perkembangan teknologi ini. Tes darah untuk Alzheimer tidak sama dengan tes yang dapat meramalkan masa depan kesehatan seseorang secara pasti.

National Institutes of Health menjelaskan bahwa tes darah berbasis biomarker saat ini sudah dapat membantu tenaga medis mengidentifikasi tanda biologis Alzheimer pada pasien tertentu, khususnya mereka yang mengalami gangguan kognitif. Tetapi penggunaannya untuk memprediksi secara pasti kapan seseorang yang masih sehat akan mengalami gejala masih menjadi bidang penelitian yang terus berkembang.

Para ahli juga menyoroti risiko penggunaan hasil tes secara sembarangan pada orang yang belum mengalami gejala. Hasil biomarker dapat menimbulkan kecemasan dan belum selalu dapat memberikan kepastian mengenai perjalanan penyakit seseorang. Karena itu, interpretasi hasil pemeriksaan tetap membutuhkan konteks klinis dan penilaian tenaga kesehatan.

Jika teknologi ini terus berkembang, manfaat terbesarnya mungkin bukan sekadar mengetahui seseorang memiliki tanda biologis Alzheimer lebih awal. Informasi tersebut dapat membantu peneliti merekrut peserta uji klinis pada fase penyakit yang tepat dan membuka peluang bagi pengembangan terapi yang ditujukan untuk memperlambat atau mencegah munculnya gejala.

Hal ini menjadi semakin relevan karena sejumlah terapi Alzheimer modern dirancang untuk bekerja pada tahap penyakit yang relatif awal. Semakin cepat perubahan biologis teridentifikasi, semakin besar peluang penelitian untuk menguji apakah intervensi tertentu dapat diberikan sebelum kerusakan kognitif berkembang lebih jauh.

Meski begitu, perjalanan menuju pemeriksaan yang benar-benar dapat digunakan untuk memprediksi Alzheimer pada masyarakat umum masih panjang. Peneliti perlu memastikan bahwa hasil tes konsisten pada populasi yang lebih luas, termasuk kelompok dengan latar belakang genetik dan karakteristik kesehatan yang berbeda.

Dengan demikian, kabar mengenai tes darah yang mampu mendeteksi Alzheimer sebelum gejala muncul memang menunjukkan perkembangan penting dalam penelitian neurologi. Namun, teknologi tersebut saat ini lebih tepat dipandang sebagai alat deteksi dan prediksi yang sedang dikembangkan, bukan sebagai tes yang dapat memastikan seseorang akan mengalami Alzheimer pada waktu tertentu.

Jika penelitian terus menghasilkan hasil yang konsisten, pemeriksaan darah di masa depan berpotensi mengubah cara Alzheimer dideteksi. Penyakit yang selama ini sering dikenali setelah daya ingat mulai terganggu mungkin suatu hari dapat diidentifikasi ketika proses biologisnya masih berlangsung diam-diam, jauh sebelum gejala terlihat.

Related posts

Makanan Gluten Free, Tren Gaya Hidup Sehat yang Kian Populer di Kalangan Anak Muda

Daun Bidara: Tanaman Herbal yang Kaya Antioksidan dan Antimikroba

5 Manfaat Buah Matoa Bagi Kesehatan dan Kecantikan